bermula dari percakapan singkat di sebuah instant messenger dengan temen gue ber inisial "bu arsi"
"blablablablablabla"
"blablablablablabla"
"blablablablablabla"
me:"ok i just read it for 5 sec and decides to close it"
BA:"apaneee labil bet"
me:"its a love thins beybeh and im kinda allergy of that, for this time of course"
BA:"wahahaha ada yang galau akut rupanya =))"
me:" bukan galau meeen believe me" "love only maes peoples weak"
BA:" i think you're wrong"
me:" there's no right and wrong in love" "for me its only makes peoples weak, for this time of course"
BA:"yaudalah ya makin pusing aku jadinya ._."
me:" wkwkwkw jangan di bikin pusing lah"
dan percakapan berlanjut ngalor ngidul
dari situ terbersit pikiran baru. bener juga . dalam cinta gaada bener dan gaada salah.
dari situ juga terbersit, untuk apa masih menyalahkan seseorang atas hal buruk yang telah terjadi di suatu hubungan (of course hubungan, karena disini bicara soal cinta wuek)
beberapa orang yang gue kenal masih terjebak di ruang nostalgia nya (sumpah itu bukan raisa)
mereka yang menyalahkan diri sendiri, atau bahkan menyalahkan pasangan nya atas hancur nya sebuah hubungan.
"dia tuh ga ngerti des, apa sih susahnya sebentar aja blablablabla gue ngerti dia sibuk tapi cuma ngeluangin berapa menit apa sih susahnya blablabla"
"iya dia ga ngerti gue, gue akuin sih emang nyuekin dia berapa waktu ini tapi itu karena gue sibuk tugas piittt sibuk buat uas tau lah lo gimana gue begadangnya tiap hari"
yang nyalahin diri sendiri lebih parah:
"kenapa gue kemarin gini ya, kemaren gue tolol banget kenapa gue gitu ya"
"asli gue nyesel banget kenapa bsia sampe begini ya, gak kepikiran gue bisa sampe begini"
oke guys enough for that.
actually, alhamdulillah ya allah kupanjatkan puji syukurku padamu
atas pola pikir dan kelakuan gak biasa yang telah kau berikan padaku
oiya temen temen gue diatas itu ada laki ada perempuan loh, so bukan mustahil laki juga kyk diatas.
untung nya gue sama sekali bukan tipe orang kyk gitu. mungkin "doi" iya . dari semua kelakuan nya setelah putus ke gue.
okay the point is, guys it's life men. so live it. ga ada gunanya nyeselin ini nyeselin itu.
kita cuma harus menyadari kesalahan, belajar dari nya, dan jadi lebih baik. se simpel itu. yes.
terutama soal cintrong. there's no wrong, no right. just do it and love it. no regret.
semoga kalimat sederhana itu bisa memberikan pencerahan bagi kalian yang membaca dan saya yang menulis
Senin, 10 Juni 2013
Kepentingan Rakyat atau Kepentingan Perusahaan?
Belum lama ini, PT. KAI (Kereta Api Indonesia)
mengumumkan akan meniadakan Kereta Ekonomi dengan Alasan “meningkatkan
pelayanan dan kenyamanan pengguna kereta” benarkah demikian? Atau hanya sebuah
alibi untuk menutupi alasan sebenarnya?
PT.
KAI (Kereta Api Indonesia) mengatakan bahwa penghilangan kereta api ekonomi
dilakukan karena menurutnya kereta ekonomi lebih banyak menimbulkan efek
negatif dibandingkan efek positif nya. Dengan harga yang amat murah, tapi
membahayakan kenyamanan penumpang, seperti penuh sesaknya didalam kereta, panas
nya didalam kereta, banyaknya penumpang gelap, sehingga dianggap “pantas” untuk
dihilangkan. Sementara kereta api ekonomi adalah kereta yang mendapatkan
subsidi dari pemerintah. Lantas kemana subsidi itu pergi bila kereta ekonomi
ditiadakan?
Alasan
“meningkatkan pelayanan dan kenyamanan pelanggan” sepertinya tidak tepat
dipakai di masalah ini, karena disini, masyarakat mau tidak mau akan
menggunakan kereta ekonomi AC dan KRL Commuter Line, dengan harga 2-3 kali
lipat dari harga tiket kereta ekonomi, bahkan menurut pengakuan pengguna jasa
kereta tersebut, sama sekali tidak memperlihatkan peningkatan pelayanan dan
kenyamanan, dari AC yang sering sekali mati, kereta yang penuh sesak pelanggan,
sampai jadwal keberangkatan yang sering terlambat dari jadwalnya, dimana
peningkatan nya?
Banyak
yang menilai bahwa pengtiadaan kereta ekonomi ini adalah proyek untuk
menguntungkan perusahaan, asumsi ini diperkuat dengan diusirnya para pedagang
di stasiun stasiun secara paksa, dan memberikan tempat tersebut ke pada
supermarket dan waralaba. Kepentingan rakyat atau kepentingan perusahaan?
Lalu
dipertanyakan kemana aliran subsidi untuk PT.KAI dari pemerintah mengalir
apabila kereta bersubsidi itu di tiadakan? PT. KAI menjawab aliran subsidi akan
dialihkan ke layanan pemindahan kendaraan roda empat, yang bahkan sampai saat
ini peminatnya sangat sedikit. Lagi lagi dipertanyakan, kepentingan rakyat atau
perusahaan? Entah bagaimana pemerintah bisa mengizinkan PT. KAI untuk
menghilangkan kereta ekonomi ini, apakah sebuah konspirasi? Belum terjawab.
Kereta
ekonomi bisa dibilang transportasi vital bagi masyarakat menengah kebawah
dengan kata lain mayoritas penduduk Indonesia. Bayangkan beberapa juta
masyarakat menengah kebawah di Indonesia harus membayar 2 – 3 kali lipat hanya
untuk transportasi mereka sehari hari.
Bagaimana
nasib masyarakat menengah kebawah? Sampai kapan penjajahan oleh bangsa sendiri
ini terus berlanjut? Waktu yang akan menjawabnya
Langganan:
Postingan (Atom)